[:en]

_MG_2543

Fakultas Teknik UM Magelang mengadakan Seminar Nasional bertema “Kolaborasi Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, dan Industri Menuju Smart and Sustainable City” pada Hari Kamis, 22 September 2016 di Auala Fikes Kampus 2 UM Magelang. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kegiatan Milad ke-52 UM Magelang. Yun Arifatul Fatimah Ph.D, Dekan FT UM Magelang mengatakan, konsep “smart and sustainable city” atau kota cerdas dan berkelanjutan telah mulai banyak diterapkan di berbagai kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Bali, Jakarta, Bandung, termasuk juga Magelang. “Smart and Sustainable  diartikan sebagai pengembangan kota melalui pembangunan yang berkelanjutan dengan menekan pada peningkatan kualitas hidup melalui pembangunan kompetensi wilayah di bidang ekonomi, mobilitas, lingkungan, manusia, kehidupan dan pemerintah yang menekankan pada pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal, ” ungkap Yun.

Lebih lanjut Doktor lulusan Curtin University Australia itu menjelaskan bahwa penerapan konsep tersebut diyakini mampu menyelesaikan masalah kemacetan, konsumsi energi, pencemaran lingkungan, penumpukan sampah, dan keamanan warga kota, serta mampu memberikan manfaat bagi pemerintah dan masyatakat. Pencapaian efisien dan efektifitas alokasi sumber daya daerah, pengurangan kesenjangan dalam masyarakat, polusi dan emisi gas buang adalah manfaat yang diperoleh dari konsep tersebut. “Keberhasilan implementasi Smart and Sustainable City menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Untuk itulah UM Magelang mengundah pakar dalam bidang tersebut untuk berbagi tentang konsept Smart and Sustainable City.

Pemrakasa Smart and Sustainable City Prof. Dr. Suhono Harso Supangkat menyatakan belum ada daerah di Indonesia yang mencapai nilai sempurna sebagai smart city. Sejauh ini hanya ada daerah yang telah meraih indeks kota cerdas Indonesia (IKCK) menuju smart city atau kota cerdas. Menurut dia, predikat smart city itu mendefinisikan daerah kota maupun kabupaten yang mampu mengelola sumber daya alam dan sumber daya manusia, sehingga masyarakat bisa merasa aman, nyaman secara berkelanjutan.

Menurutnya, sejauh ini masih diusahan bagaimana agar teknologi, tata kelola dan masyarakat sebuah daerah siap dengan predikat smart city. Hal ini emmerlukan proses dan waktu yang tidak sebentar sebab secara non-fisik mewujudkan smart city juga menyangkut mengubah pola pikir masyarakat. “Smart city bukan artinya sudah memasang teknologi, misalnya WiFi gratis. Tidak ada caranya membangun smart city 5-10 tahun, karena juga menyangkut mindset, bagaimana buang sampah, berlalu lintas dan lainnya,”paparnya.

Hal yang lebih penting, tegas Suhono, menjadi kota cerdas berarti kota yang mengetahui permasalahan yang ada didalamnya (sensing), memahami kondisi permasalahan (understanding), dan dapat mengatur (acting) berbagai sumber daya yang ada untuk digunakan secara efektif dan efisien dengan tujuan memaksimalkan pelayanan kepada warganya.

Sementara itu dalam seminar tersebut hadir beberapa tokoh sebagai narasumber antara lain Walikota Magelang Ir. H. Sigit Widyonindito, Sekretaris Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti Prof. Sutrisna Wibawa, Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Komputer Indonesia (APTIKOM) Prof. Zaenal Arifin Hasibuan (Guru Besar UI) dan GM Commercial & Development PT Jababeka Infrastruktur Endy A Budyanto (pengembang Smart City Nasional).

Walikota Magelang mengatakan, pada tahun 2015 lalu Kota Magelang berhasil meraih predikat IKCI sebagai kota yang berpenduduk kurang dari 200.000 jiwa. Penghargaan tersebut, katanya, tidak lepas dari peran warga dan juga pemerintah yang kolaboratif menciptakan sesuatu yang cerdas, dalam berbagai aspek, termasuk smart economy (ekonomi cerdas).

Kota Magelang sangat kecil, tidak punya sumber daya alam. Walaupun kecil tapi kami punya cita-cita tinggi menjadi Singapura-nya Jawa Tengah. Potensi dan peluang kita definisikan bareng-bareng supaya jadi pro-investasi,” ujar dia.

[:]