Di semester ke-14, Rahmadika Feri Setiawan, mahasiswa Teknik Informatika (S1) Universitas Muhammadiyah Magelang, berada di titik nadir. Status akademiknya terancam, langkahnya di dunia perkuliahan hampir saja terhenti. Beban skripsi yang belum selesai membuat jalan menuju kelulusan terasa semakin kabur.
Namun, alih-alih menyerah, Rahmadika memilih untuk bertahan. Dengan tekad yang dipupuk dari dukungan keluarga, dosen pembimbing, dan rekan-rekannya, ia mulai merajut kembali semangat yang sempat pudar. Dari situlah lahir sebuah karya yang tak hanya membawanya meraih gelar sarjana, tetapi juga membuka jalan menuju pengakuan kekayaan intelektual.
Dari Krisis Menjadi Karya
Skripsi Rahmadika bukanlah sekadar formalitas untuk menuntaskan studi. Ia merancang prototipe alat ukur diameter kayu albasia berbasis teknologi IoT (Internet of Things). Alat ini dirancang untuk membantu petani dan pelaku industri kayu mengukur diameter batang secara cepat, akurat, dan real-time, hanya dengan memanfaatkan perangkat yang terhubung ke internet.
Teknologi ini menggabungkan sensor jarak, mikrokontroler, dan sistem monitoring berbasis web. Data hasil pengukuran dapat diakses langsung melalui perangkat digital, memudahkan pengambilan keputusan di lapangan.
Menuju Pengakuan Resmi
Keunggulan inovasi ini tak berhenti di meja sidang skripsi. Hasil penelitian tersebut kini sedang dalam proses pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sebagai bentuk perlindungan dan pengakuan resmi atas karya Rahmadika.
Bagi seorang mahasiswa yang pernah berada di ujung jurang akademik, pencapaian ini adalah bukti bahwa kegagalan sementara bukanlah akhir segalanya. Justru, dari situasi terburuk, lahirlah karya yang berdampak nyata.
Pesan dari Perjalanan Panjang
Kisah Rahmadika menjadi pengingat bahwa perjuangan di dunia perkuliahan bukan hanya tentang menyelesaikan mata kuliah tepat waktu, tetapi juga tentang bertahan, beradaptasi, dan terus berinovasi meski dalam tekanan.
Kini, dengan gelar sarjana di tangan dan karya yang berpotensi membantu banyak pihak, Rahmadika membuktikan bahwa kadang, yang hampir menyerah justru punya kisah kemenangan paling menginspirasi.